Sunday, December 30, 2012

Pencantuman Bebas BTP - Bolehkah?

Pada saat pembaca berjalan-jalan di supermarket atau pasar tradisional, pernahkah pembaca membaca tulisan pada kemasan pangan seperti: 'Bebas Pengawet', 'Tanpa Pewarna', 'Tidak Mengandung Pemanis' dan lain sebagainya, yang berusaha menunjukkan pangan tersebut alami dan tidak mengandung bahan tambahan apapun.  Produsen tentunya menuliskan hal tersebut untuk menarik konsumen, apalagi image konsumen terhadap kata-kata bahan tambahan pangan biasanya selalu negatif.
Bahan tambahan pangan selalu diidentikkan dengan zat yang berbahaya yang bisa mengganggu kesehatan.  Padahal apabila pemakaiannya sesuai dengan aturan yang berlaku, tentunya kesan negatif ini bisa dihilangkan.
Nah, tahukah pembaca bahwa Pencantuman Bebas BTP ternyata tidak diperbolehkan sesuai dengan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, no. HK.00.06.1.52.6635, tahun 2007.  Silahkan download peraturan tersebut disini
Disebutkan pada aturan adalah "Melarang pencantuman informasi bebas bahan tambahan pangan pada label dan iklan pangan".  Lalu disebutkan pula bahwa "Informasi bebas bahan tambahan pangan sebagaimana dimaksud adalah meliputi pernyataan dan atau tulisan dengan menggunakan kata 'Bebas', 'Tanpa', 'Tidak Mengandung' dan atau kata semakna lainnya.  Dengan dikeluarkannya aturan ini, maka semua label produk pangan yang telah beredar wajib menyesuaikan demikian pula dengan iklan produk pangan yang menyatakan informasi bebas bahan tambahan pangan harus dihentikan
Sanksi yang diberikan apabila melanggar adalah sanksi administratif yaitu:
  • peringatan secara tertulis; atau
  • larangan mengedarkan untuk sementara waktu dan atau perintah menarik produk pangan dari peredaran; atau
  • pencabutan persetujuan pendaftaran' atau
  • rekomendasi pencabutan sertifikat produksi pangan industri rumah tangga

Kembali ke DAFTAR ISI 

Saturday, December 29, 2012

Mengapa BTP Ditambahkan?

Tulisan ini menyambung dari dua tulisan terdahulu terkait dengan Bahan Tambahan Pangan (BTP).  Kali ini penulis akan menyampaikan beberapa informasi terkait dengan fungsi Bahan Tambahan Pangan ini.

Mengapa BTP perlu ditambahkan pada pangan?
BTP memiliki beragam fungsi dalam pangan yang diharapkan dapat memberikan hal yang menguntungkan bagi konsumen.  Berikut ini adalah beberapa alasan penambahan BTP:



  1. Mempertahankan atau meningkatkan keamanan dan kesegaran pangan.  BTP yang termasuk golongan pengawet (preservative) mampu memperlambat kerusakan produk disebabkan oleh kapang, khamir, bakteri atau udara.  Sebagai tambahan, untuk mempertahankan mutu produk, BTP ini dapat pula membantu pengendalian kontaminasi yang dapat menyebabkan penyakit akibat makanan (foodborne illness), karena menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang bersifat patogen.  Selain pengawet, BTP yang terkait dengan fungsi ini adalah golongan antioksidan, yang dapat mencegah terjadinya ketengikan (rancid) dan off-flavour pada lemak dan minyak atau pangan yang mengandung lemak dan minyak akibat proses oksidasi
  2. Meningkatkan atau mempertahankan nilai giziVitamin, mineral dan serat termasuk BTP dengan fungsi ini.  Ditambahkan ke berbagai bahan pangan untuk keperluan diet bagi yang membutuhkan, atau ditambahkan sebagai pengganti vitamin dan mineral yang hilang selama proses produksi (contoh: akibat pemanasan suhu tinggi).  BTP ini juga bisa ditambahkan untuk meningkatkan nilai gizi pada bahan pangan.  Penambahan vitamin dan mineral ini sering disebut sebagai fortifikasi dan dapat menolong peningkatan masalah gizi buruk pada suatu daerah.
  3. Meningkatkan rasa, tekstur dan penampakan.  Banyak golongan BTP dengan fungsi ini seperti flavour, pemanis (sweetener), pewarna, pengemulsi (emulsifier),  penstabil (stabilizer), pengembang  dan pengental (thickener).  Flavour dan pemanis ditambahkan untuk meningkatkan rasa produk.  Pewarna ditambahkan untuk meningkatkan dan mempertahankan penampakan produk.  Pengemulsi, penstabil dan pengental untuk menghasilkan tekstur dan konsistensi sesuai dengan keinginan konsumen.  Pengembang menghasilkan pengembangan yang diinginkan selama proses oven, seperti produk-produk bakery.
Demikianlah beberapa fungsi dari BTP.  Pemakaian BTP ini diizinkan dengan catatan bahan yang digunakan adalah bahan yang diperbolehkan pemakaiannya dan konsentrasi yang ditambahkan juga harus sesuai dengan aturan yang berlaku.


sumber: http://www.fda.gov/food/foodingredientspackaging/


Kembali ke DAFTAR ISI





Thursday, December 27, 2012

Penggolongan BTP

Masih terkait dengan tulisan terdahulu, dalam kesempatan kali ini penulis akan menjabarkan penggolongan BTP (Bahan Tambahan Pangan).  Tentunya masih menggunakan referensi yang sama yaitu Peraturan Menteri Kesehatan no. 033 Tahun 2012.  Penggolongan BTP ini dapat dilihat pada Lampiran I .  Penggolongan ini berdasarkan kepada fungsi BTP tersebut terhadap pangan.
Berikut ini adalah penggolongan BTP tersebut disertai dengan beberapa contoh bahan yang diizinkan penggunaannya, yang tentunya dalam konsentrasi (kadar atau dosis) tertentu:
  1. Anti buih (antifoaming agent) yaitu BTP untuk mencegah atau mengurangi pembentukan buih.  Contoh: kalsium alginat 
  2. Anti kempal (anticaking agent) yaitu BTP untuk mencegah mengempalnya produk pangan.  Contoh: kalsium karbonat, natrium karbonat, trikalsium fosfat, silikon dioksida halus
  3. Antioksidan (antioxidant) yaitu BTP untuk mencegah atau menghambat kerusakan pangan akibat oksidasi.  Contoh: asam askorbat, asam eritorbat, butil hidroksi anisol (BHA), butil hidroksi toluen (BHT), butil hidrokinon tersier (TBHQ)
  4. Bahan pengkarbonasi (carbonating agent) yaitu BTP untuk membentuk karbonasi di dalam pangan, dan biasanya dipakai pada produk minuman ringan.  Contoh: karbon dioksida
  5. Garam pengemulsi (emulsifying salt), yaitu BTP untuk mendispersikan protein dalam keju sehingga mencegah pemisahan lemak.  Contoh: trinatrium sitrat, gelatin, kalsium polifosfat
  6. Gas untuk kemasan (packaging gas), yaitu BTP berupa gas yang dimasukkan ke dalam kemasan pangan sebelum, sesaat maupun setelah kemasan diisi dengan pangan untuk mempertahankan mutu pangan dan melindungi pangan dari kerusakan. Contoh: karbon dioksida, nitrogen
  7. Humektan (humectant), yaitu BTP untuk mempertahankan kelembaban pangan. Contoh: natrium laktat, gliserol, triasetin
  8. Pelapis (glazing agent), yaitu BTP untuk melapisi permukaan pangan sehingga memberikan efek perlindungan dan/atau penampakan mengkilap.  Contoh: carnauba wax, beeswax, candelila wax
  9. Pemanis (sweetener), yaitu BTP berupa pemanis alami dan pemanis buatan yang memberikan rasa manis pada produk pangan.  Pemanis alami (natural sweetener) adalah pemanis yang dapat ditemukan dalam bahan alam yang diproses secara sintetik maupun fermentasi, contohnya: sorbitol, laktitol, manitol.  Pemanis buatan (artificial sweetener) adalah pemanis yang diproses secara kimiawi dan senyawa tersebut tidak terdapat di alam, contoh: aspartam, asam siklamat, sakarin, sukralosa
  10. Pembawa (carrier), yaitu BTP yang digunakan untuk memfasilitasi penanganan, aplikasi atau penggunaan BTP lain atau zat gizi di dalam pangan dengan cara melarutkan, mengencerkan, mendispersikan atau memodifikasi secara fisik BTP lain atau zat gizi tanpa mengubah fungsinya dan tidak mempunyai efek teknologi pada pangan.  Contoh: propilen glikol, trietil asetat
  11. Pembentuk gel (gelling agent), yaitu BTP untuk pembentukan gel.  Contoh: asam alginat, agar-agar, karagen, pektin, gelatin
  12. Pembuih (foaming agent), yaitu BTP untuk membentuk atau memelihara homogenitas dispersi fase gas dalam pangan berbentuk cair atau padat.  Contoh: xanthan gum, selulosa mikrokristalin
  13. Pengatur keasaman (acidity regulator), yaitu BTP untuk mengasamkan, menetralkan dan/atau mempertahankan derajat keasaman pangan.  Contoh: asam sitrat, asam tartrat, asam laktat, asam fumarat
  14. Pengawet (preservative), yaitu BTP untuk mencegah atau menghambat fermentasi, pengasaman, penguraian dan perusakan lainnya terhadap pangan yang disebabkan mikroorganisme.  Contoh: asam sorbat, asam benzoat,  asam propionat
  15. Pengembang (raising agent), yaitu BTP berupa senyawa tunggal atau campuran untuk melepaskan gas sehingga meningkatkan volume adonan.  Contoh: natrium karbonat, amonium karbonat, dekstrin
  16. Pengemulsi (emulsifier), yaitu BTP untuk membantu terbentuknya campuran yang homogen dari dua atau lebih fase yang tidak tercampur seperti minyak dan air.  Contoh: lesitin, karagen, guar gum, arabic gum, asam alginat
  17. Pengental (thickener), yaitu BTP untuk meningkatkan viskositas pangan (menambah kekentalan).  Contoh: asam alginat, kalsium asetat, gliserol, pektin
  18. Pengeras (firming agent), yaitu BTP untuk memperkeras atau mempertahankan jaringan buah dan sayuran, atau berinteraksi dengan bahan pembentuk gel untuk memperkuat gel.  Contoh: kalsium laktat, kalsium sulfat, trikalsium sitrat
  19. Penguat rasa (flavour enhancer), yaitu BTP untuk memperkuat atau memodifikasi rasa dan/atau aroma yang telah ada dalam bahan pangan tanpa memberikan rasa dan/atau aroma baru.  Contoh: asam L-glutamat dan garamnya, asam inosinat dan garamnya, asam guanilat dan garamnya
  20. Peningkat volume (bulking agent), yaitu BTP untuk meningkatkan volume pangan.  Contoh: natrium laktat, asam alginat, karagen
  21. Penstabil (stabilizer), yaitu BTP untuk menstabilkan sistem dispersi yang homogen pada pangan.  Contoh: kalsium karbonat, lesitin, asam fumarat, pektin, gelatin
  22. Peretensi warna (colour retention agent), yaitu BTP yang dapat mempertahankan, menstabilkan atau memperkuat intensitas warna pangan tanpa menimbulkan warna baru.  Contoh: magnesium karbonat, magnesium hidroksida
  23. Perisa (flavouring), yaitu BTP berupa preparat konsentrat dengan atau tanpa flavouring adjunct yang digunakan untuk memberi flavour dengan pengecualian rasa asin, manis dan asam.  Perisa ini dikelompokkan menjadi perisa alami, perisa identik alami dan perisa artifisial
  24. Perlakuan tepung (flour treatment agent), yaitu BTP yang ditambahkan pada tepung untuk memperbaiki warna, mutu adonan dan atau pemanggangan, termasuk bahan pengembang adonan, pemucat dan pematang tepung.  Contoh: papain, bromelain, alfa amilase
  25. Pewarna (colour), yaitu BTP berupa pewarna alami dan pewarna sintetis, yang ketika ditambahkan atau diaplikasikan pada pangan, mampu memberi atau memperbaiki warna.  Pewarna alami (natural colour) adalah pewarna yang dibuat melalui proses ekstraksi, isolasi atau derivatisasi (sintetis parsial) dari tumbuhan, hewan, mineral atau sumber alami lain, contohnya: kurkumin, riboflavin, karamel, beta-karoten.  Pewarna sintetis adalah pewarna yang diperoleh secara sintetis kimiawi, contohnya: tartrazine, karmoisin, ponceau 4R, biru berlian FCF
  26. Propelan (propellant), yaitu BTP berupa gas untuk mendorong pangan keluar dari kemasan.  Contoh: nitrogen, propana
  27. Sekuesteran (sequestrant), yaitu BTP yang dapat mengikat ion logam polivalen untuk membentuk kompleks sehingga meningkatkan stabilitas dan kualitas pangan.  Contoh: isopropil sitrat, natrium glukonat 
Semua penggolongan dan definisi setiap golongan diatas, penulis acu langsung dari Lampiran I, Peraturan Menteri Kesehatan no. 033 Tahun 2012
Apabila dilihat dari penggolongan diatas, cukup banyak golongan dan fungsi BTM dan Insya Allah pada kesempatan lain akan penulis jelaskan satu persatu termasuk karakteristik untuk bahannya.  Beberapa bahan dapat mempunyai lebih dari satu fungsi pada pangan sehingga untuk penggolongannya  pun menjadi lebih dari satu
Setiap penggunaan BTM harus disebutkan pada komposisi yang tertera pada label pangan sebagai informasi kepada konsumen.


Kembali ke DAFTAR ISI 





Wednesday, December 26, 2012

Bahan yang Dilarang Sebagai BTP

BTP adalah singkatan dari Bahan Tambahan Pangan atau yang dalam bahasa Inggrisnya dikenal sebagai Food Additive.  Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia no. 033 Tahun 2012 (ditetapkan tanggal 12 Juli 2012) Tentang Bahan Tambahan Pangan, definisi bahan tambahan pangan adalah bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan.  
Penggunaan bahan tambahan pangan diperbolehkan dengan syarat, bahan tersebut diperbolehkan dipergunakan dan konsentrasi (kadar atau dosisnya) sesuai dengan aturan yang berlaku.
Berikut ini adalah beberapa bahan tambahan pangan yang dilarang penggunaannya (sesuai dengan Lampiran 2 Peraturan Menteri Kesehatan RI no. 033 Tahun 2012: 
  1. Asam borat dan senyawanya (Boric acid)
  2. Asam salisilat dan garamnya (Salicylic acid and its salt)
  3. Dietilpirokarbonat (Diethylpyrocarbonate, DEPC)
  4. Dulsin (Dulcin)
  5. Formalin (Formaldehyde)
  6. Kalium bromat (Potassium bromate)
  7. Kalium klorat (Potassium chlorate)
  8. Kloramfenikol (Chloramphenicol)
  9. Minyak nabati yang dibrominasi (Brominated vegetable oils)
  10. Nitrofurazon (Nitrofurazone)
  11. Dulkamara (Dulcamara)
  12. Kokain (Cocaine)
  13. Nitrobenzen (Nitrobenzene)
  14. Sinamil antranilat (Cinnamyl anthranilate)
  15. Dihidrosafrol (Dihydrosafrole)
  16. Biji tonka (Tonka bean)
  17. Minyak kalamus (Calamus oil)
  18. Minyak tansi (Tansy oil)
  19. Minyak sasafras (Sasafras oil)  
Berdasarkan pasal 17, apabila ditemukan pelanggaran terhadap Peraturan Menteri termasuk penggunaan bahan-bahan tersebut di atas maka akan dikenalan sanksi administratif sebagai berikut:
  1. peringatan secara tertulis
  2. larangan mengedarkan untuk sementara waktu dan/atau perintah untuk penarikan kembali dari peredaran
  3. perintah pemusnahan, jika terbukti tidak memenuhi persyaratan keamanan atau mutu; dan/atau
  4. pencabutan izin edar
Pada kesempatan lain, penulis akan menyampaikan golongan bahan tambahan pangan, bahan-bahan tambahan yang diperbolehkan penggunaannya untuk setiap golongan tersebut. Dan nantinya penulis juga akan menjelaskan secara ringkas karakteristik dari bahan tambahan tersebut.  Tentunya penulis akan mengambil referensi utama dari Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia no. 033 Tahun 2012 dan dari referensi lain apabila ada hal-hal yang tidak dijelaskan pada aturan tersebut


Kembali ke DAFTAR ISI 

Tuesday, December 25, 2012

Sertifikasi Keamanan Pangan - Perlukah?

"Perlukah kita disertifikasi manajemen keamanan pangan?" Pertanyaan ini pasti pernah terlintas di pikirin para pengambil keputusan di industri pangan ataupun industri terkait dengan pangan.  Pertanyaan ini sangat wajar, karena tentunya para pengambil keputusan akan meninjau apakah dengan sertifikat tersebut akan memperoleh nilai tambah bagi bisnis perusahaan.  Hal ini dikarenakan proses sertifikasi itu sendiri tentunya membutuhkan persiapan dimana biasanya akan ada biaya yang dikeluarkan untuk investasi.  Ada investasi tentunya harus ada 'return'.
Sebenarnya apa sih sertifikasi manajemen keamanan pangan ini? Bukannya kalau kita melaksanakannya berdasarkan persyaratan dari standar itu sendiri sudah cukup?  Pertanyaan kedua ini memang benar.  Apa susahnya melaksanakannya.  Tinggal beli standar atau ikut pelatihan sehari dua hari, lalu lakukanlah sesuai dengan permintaan standar.  Beres kan?
Kelihatannya memang benar, tapi kenyataannya tidak sesederhana itu, karena dengan adanya sertifikat, anda berarti mendapatkan 'PENGAKUAN' baik secara nasional maupun internasional, bergantung badan sertifikasi dan badan akreditasi yang mengeluarkan sertifikat tersebut.  Nah kata 'PENGAKUAN' tersebutlah yang kemungkinan bisa memberikan nilai tambah bagi perusahaan tersebut.  Kenapa masih ada kata 'kemungkinan' bukan 'pasti'?  Tentunya ada alasannya dan akan membutuhkan tulisan khusus untuk menjabarkannya dan Insya Allah akan saya masukkan pada tulisan mendatang.
Perusahaan boleh-boleh saja menjalankan standar tanpa disertifikasi, tetapi ketika ada pertanyaan dari pelanggan yang menanyakan "Apakah perusahaan anda menjalankan sistem manajemen keamanan pangan?"  Karena anda merasa sudah menjalankan, maka anda akan katakan "Iya, perusahaan saya sudah menjalankan sistem manajemen keamanan pangan".  Tetapi, biasanya pelanggan tidak akan berhenti sampai disitu, mereka pasti akan menanyakan pertanyaan lanjutan: "Siapa yang melakukan sertifikasi?" "Sudah berapa lama perusahaan anda disertifikasi?"  Bagaimana kredibilitas badan sertifikasinya?"  Nah disitulah dibutuhkan pengakuan tadi.
Sertifikasi manajemen keamanan pangan biasanya dilakukan oleh badan sertifikasi yang independen.  Banyak sekali badan sertifikasi yang berada di Indonesia ini, baik dari perusahaan lokal maupun yang bertaraf internasional.  Perusahaan yang bergerak di bidang pangan dibebaskan untuk memilih badan sertifikasi tersebut, tentunya dengan berbagai pertimbangan, bukan cuma masalah harga.  Di lain waktu penulis akan menyampaikan tulisan terkait dengan pertimbangan pemilihan badan sertifikasi.
Selain pengakuan, terdapat hal lain yang merupakan jawaban kenapa perusahaan harus disertifikasi.  Tadi telah disampaikan bahwa sertifikat dikeluarkan oleh badan independen yang tidak terkait kepentingan apapun dengan perusahaan yang akan disertifikasi.  Keputusan pemberian sertifikat ini juga dilakukan dengan audit yang independen pula.  Berdasarkan hasil audit inilah, nantinya akan diputuskan apakah perusahaan tersebut berhak mendapatkan sertifikast atau tidak.  Setelah sertifikat direkomendasikan, untuk tahap selanjutnya perusahaan masih tetap akan diaudit setiap 6 bulan sekali atau paling lama setahun untuk memastikan apakah sistem masih dilakukan secara konsisten dan dilakukan pengembangan secara terus menerus.  Nah inilah jawabannya, apabila disertifikasi, perusahaan anda akan dipantau terus dalam pelaksanaan sistem.  Apabila hanya melakukan sendiri, tanpa ada pihak independen yang menilai, tentunya akan sulit memastikan apakah pelaksanaan sistem manajemen keamanan pangan tersebut telah sesuai atau tidak.  


Kembali ke DAFTAR ISI 


Monday, December 24, 2012

Mengenal Alergen

Pernahkah pembaca mendengar perkataan alergen?  Di era informasi ini, tentunya sudah banyak masyarakat yang pernah mendengar istilah ini. Secara sederhana, alergen ini adalah zat yang terdapat dalam bahan pangan yang dapat menimbulkan reaksi alergi.  Reaksi ini tidak muncul pada setiap orang, tetapi akan muncul pada orang yang sensitif dan biasanya hal ini bersifat genetis.  Reaksi alergi juga bisa berbeda tergantung zat alergen pada bahan makanan tersebut.  Artinya orang yang berbeda mempunyai reaksi yang berbeda pula terhadap zat alergen yang berbeda.
Aturan pelabelan pangan yang mengandung alergen sudah dicanangkan di Eropa maupun di Amerika, tetapi belum terlalu bergema di Indonesia.  Tetapi terlepas dari itu, sebenarnya zat makanan yang mengandung alergen bisa kita identifikasi dari komposisi pangan yang tertulis pada label.  Produsen yang jujur akan memberikan informasi yang detail dan jelas semua bahan pada komposisi pangan tersebut.
Berikut ini saya akan sampaikan jenis-jenis zat yang terkategori sebagai alergen.  Referensi sebagai acuan penulis adalah Commision Directive 2007/68/EC (27/11/2007) ammending Annex IIIa to Directive 2001/13/EC of the European Parliament and of the Council as regards certain food ingredients.  

Penulis akan menyampaikan jenis alergen ini dalam bahasa asli pada Annex IIIa tersebut dan berusaha menterjemahkannya secara bebas ke dalam bahasa Indonesia yang digunakan sehari-hari.


  1. Cereals containing glutein (wheat, rye, barley, oats, spelt, kamut or their hybridised strains) and product thereof.  Terjemahan bebasnya adalah segala bentuk sereal dan tepung-tepungan yang banyak mengandung gluten, sebagai contoh: gandum, gandum hitam, barley, oat, dan produk-produk turunannya seperti tepung terigu dan lain-lain.
  2. Crustaceans and product thereof.  Terjemahan bebasnya adalah hewan laut yang tergolong crustacea, seperti udang, lobster dan sejenisnya serta produk-produk turunannya
  3. Eggs and product thereof.  Terjemahan bebasnya adalah telur dan produk turunannya
  4. Fish and product thereof.  Terjemahan bebasnya adalah ikan dan produk turunannya.  Perlu diingat walaupun ikan dan crustacea sama-sama merupakan hewan laut tetapi kategori alergennya berbeda
  5. Peanuts and product thereof.  Terjemahan bebasnya adalah kacang tanah dan produk turunannya.
  6. Soybeans and product thereof.  Terjemahan bebasnya adalah kedelai dan produk turunannya
  7. Milk and product thereof.  Terjemahan bebasnya adalah susu dan produk turunannya
  8. Nuts: almond, hazelnut, cashew, pecan, brazil, pistachio, macadamia and queensland and product thereof.  Terjemahan bebasnya adalah kacang-kacangan seperti almond, hazelnut, cashew dan lainnya serta produk turunannya.
  9. Celery and product thereof.  Terjemahan bebasnya adalah seledri dan produk turunannya
  10. Lupin and product thereof.  Lupin merupakan tanaman kacang-kacangan berasal dari daerah subtropis dengan bentuk, ukuran, warna dan rasanya mirip kedelai.
  11. Molluscs and product thereof.  Moluska merupakan hewan yang bertubuh lunak.  Ke dalamnya termasuk semua hewan lunak dengan maupun tanpa cangkang seperti berbagai jenis siput, kerang-kerangan, cumi-cumi dan kerabatnya
  12. Mustard and product thereof.  Mustard adalah tanaman yang sering dijadikan bumbu-bumbu
  13. Sesame seed and product thereof.  Terjemahan bebasnya adalah wijen dan produk turunannya
  14. Sulphur dioxide and sulphites at concentration of more than 10 mg/kg or 10 mg/litre expressed as SO2.  Terjemahan bebasnya adalah sulfur dioksida dan sulfit dengan konsentrasi lebih dari 10 ppm dalam bentuk SO2
Demikian daftar bahan-bahan yang mengandung zat alergen.  Jadi, apabila ada anggota keluarga pembaca atau pembaca sendiri yang sensitif terhadap bahan yang dapat menyebabkan alergi, silahkan diteliti pada saat membeli produk pangan apalagi yang merupakan produk pangan kemasan yang terdiri dari berbagai macam bahan penyusun.  Perhatikan komposisinya dan perhatikan apakah mengandung salah satu atau lebih dari bahan diatas.  


Kembali ke DAFTAR ISI 




Sunday, December 23, 2012

Teliti Sebelum Membeli - Tips membeli Produk Pangan



Perkataan ‘teliti sebelum membeli’ sering dijadikan tips, saran maupun masukan agar kita berhati-hati dalam membeli sesuatu.  Terkait dengan hal tersebut disini saya akan memberikan beberapa informasi hal-hal yang perlu diperhatikan ketika akan kita membeli pangan, terutama pangan hasil olahan pabrik. 

Di masa yang serba instant sekarang ini, orang-orang sudah jarang sekali mempersiapkan makanan menggunakan bahan-bahan dasar, karena dirasakan membutuhkan waktu lama untuk mempersiapkannya dan hal lainnya yang menjadi pertimbangan adalah tidak tahan lama.  Kebanyakan orang-orang akan membeli bahan yang sudah setengah jadi untuk diolah sedikit saja atau ditambah bahan lain agar bisa dikonsumsi, maupun produk pangan yang siap makan.
Hal inilah yang menjadi peluang bagi industri-industri yang bergerak di bidang pangan.  Bukan hanya industri besar yang melihat potensi ini, tetapi juga industri menengah bahkan industri rumah tangga sekalipun.  Coba kita lihat di pasar tradisional maupun modern, banyak sekali produk pangan yang beredar di pasaran untuk memenuhi keinginan tersebut, dengan kemasan yang dibuat semenarik mungkin untuk mendapatkan perhatian pembeli, yang akhirnya diharapkan produk tersebut akan dibeli.  Coba anda perhatikan di supermarket maupun pasar modern lainnya, sangat sedikit orang yang memperhatikan produk makanan yang akan dibelinya.  Yang dilihat hanya merek produk dan kemasan yang menarik, langsung dimasukkan ke dalam keranjang belanja atau troli.  Padahal banyak sekali informasi yang bisa kita dapatkan pada label kemasan makanan selain informasi merek produk dan gambar yang menarik. 

Terkait dengan label makanan ini, pemerintah telah mengeluarkan aturan tentang Label dan Iklan Pangan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no. 69 Tahun 1999 yang bertujuan untuk melindungi masyarakat agar memperoleh informasi yang benar dan tidak menyesatkan mengenai produk pangan yang akan dikonsumsi


Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
  1. Perhatikan kondisi kemasan.  Kemasan harus dalam kondisi yang baik dan tidak bocor.  Kebocoran kemasan dapat menurunkan kualitas pangan atau yang lebih parahnya untuk pangan yang sensitif, kerusakan kemasan akan mengakibatkan kontaminasi mikroba dan mungkin bisa menyebabkan penyakit bagi konsumen
  2. Tanggal kadaluwarsa produk harus ditampilkan dengan jelas.  Hal ini harus diperhatikan, karena pangan yang sudah kadaluwarsa akan bisa membahayakan jika dikonsumsi.  Hati-hati terhadap produk pangan yang tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa atau tanggal kadaluwarsa tidak tercetak dengan jelas
  3. Produk pangan yang beredar di pasaran Indonesia, harus didaftarkan pada Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia.  Ini berlaku untuk semua produk pangan, baik yang diproduksi dalam negeri maupun bahan pangan impor.  Untuk bahan pangan produksi dalam negeri ditandai dengan Nomor MD, sedangkan bahan pangan impor terdapat Nomor ML.  Ini perlu diperhatikan, karena bahan pangan yang tidak terdaftar (yang tidak ada Nomor MD dan ML) berarti belum ditinjau oleh BPOM dan kemungkinan juga akan menyulitkan dalam hal pengawasannya.  Untuk industri rumah tangga, nomor pendaftarannya dalam bentuk P-IRT
  4. Untuk konsumen Muslim, perlu diperhatikan label Halal pada produk pangan.  Hati-hati dengan label ini, terkadang produsen hanya menuliskan label Halal, tetapi sebenarnya belum mendaftarkan produknya pada LPPOM-MUI.
  5. Identitas produsen harus tertulis jelas pada kemasan
  6. Menuliskan komposisi yang jelas pada bahan pada kemasan.  Perhatikan apakah terdapat komposisi bahan pangan yang sensitif, seperti zat-zat alergi, pemanis buatan, pewarna, pengawet dan lain sebagainya
  7. Penyimpanan produk pangan pada saat di pasar tradisional maupun pasar modern harus sesuai dengan informasi pada kemasan.  Contoh: dalam kemasan produk sosis dituliskan harus disimpan di suhu 4oC, ternyata tidak disimpan di lemari pendingin, hanya diletakkan di suhu ruangan.  Maka kemungkinan besar, produk ini sudah rusak, apalagi disimpannya mungkin sudah lebih dari sehari.


Itulah beberapa informasi yang bisa dijadikan panduan pada saat membeli bahan pangan.  Mungkin memerlukan waktu tambahan untuk memperhatikan satu persatu hal tersebut diatas ketika membeli.  Tetapi lebih baik teliti dulu sebelum terjadi hal-hal yang mengecewakan atau bahkan membahayakan bagi kita pada saat mengkonsumsinya


Kembali ke DAFTAR ISI